Cara mengenali aliran atau agama sesat yang mungkin mengintai Anda dan keluarga

BERITA TREND MASA KINI – Berita kematian satu keluarga yang berisi empat orang dewasa di Kalideres, Jakarta Barat, yang belakangan menggemparkan tanah air dua minggu belakangan ini semakin heboh ketika penyebab kematian mereka dikaitkan dengan dugaan aliran sesat yang mereka yakini. Ada yang mengatakan mereka menganut kepecayaan Apokaliptik dan yang lain mengaitkannya dengan ritual Shantara.

Rudyanto Gunawan (71) dan istrinya K. Margaretha Gunawan (68) ditemukan meninggal di dua kamar berbeda. Sementara anaknya yakni Dian Febbyana (42) ditemukan di lantai, dan iparnya yakni Budyanto Gunawan (69) ditemukan di sofa. Awalnya dicurigai penyebab kematian adalah kelaparan. Namun pihak kepolisian telah menyatakan bahwa kecil kemungkinan penyebabnya adalah kelaparan karena keluarga tersebut termasuk dan tinggal di kawasan yang berada. Tidak ada indikasi pengerusakan di TKP, tidak ada indikasi penganiayaan pada jasad korban atau pun indikasi keracunan makanan dan minuman.

Fakta bahwa keempat korban adalah keluarga yang dikenal tertutup dan tidak bergaul oleh tetangga sekitar lingkungan tempat mereka tinggal dan juga pengakukan dari salah satu kerabat korban yang mengatakan bahwa keempat korban sengaja menjauhkan diri dari keluarga besar dan terakhir berkomunikasi adalah lima tahun yang lalu, memicu dugaan bahwa keempat korban mempercayai sebuah aliran sesat.

Apokaliptik dan ritual Shantara muncul sebagai dugaan penyebab kematian keempatnya. Di banyak agama terdapat istilah dan skenario “akhir zaman” mereka masing-masing. Akhir zaman yang diyakini adalah pengakuan bahwa kehidupan seperti yang sedang kita jalani sekarang ini tidak akan bertahan selamanya. Seringkali ada harapan akan sesuatu yang baru datang dari penghancuran yang lama. Keyakinan bahwa akan ada kiamat suatu saat nanti dan harus ada upaya tindak lanjutnya, ini berada di dalam pemahaman umum tentang kepercayaan apokaliptik. Dan salah satu wujud dari upaya tindak lanjut yang dimaksud adalah bunuh diri masal.

Sementara Shantara adalah sebuah ritual dari agama minoritas Jain di India. Shantara merupakan ritual berpuasa hingga mati. Penganut kepercayaan Jainisme yang melaksanakan ritual Santhara diharuskan membuat sumpah untuk berpuasa. Mereka harus berhenti makan dan minum serta melepaskan segala bentuk hal yang bersifat duniawi hingga meninggal. Penganut jainisme percaya, jika Santhara dapat membersihkan diri dari karma buruk dan mencapai ‘Moksha’ , Moksha adalah pembebasan dari siklus duniawi kematian dan reinkarnasi.

Terlepas terbukti atau tidak bahwa Apokaliptik dan ritual Shantara ada kaitannya dengan kematian keluarga di Kalideres, Jakarta Barat, kasus tersebut menandakan bahwa aliran atau kepercayaan sesat semacam itu, tanpa kita sadari atau tidak, ada ditengah-tengah kita dan mungkin saja sedang atau akan mengintai kita atau orang-orang yang kita kasihi.

Kultus beroperasi di bawah sistem kontrol dan intimidasi, dan anggota baru sering direkrut menggunakan taktik manipulatif yang menipu. Kultus agama sering memutarbalikkan spiritualitas agar sesuai dengan tujuan pemimpin atau pemimpin, dan mereka yang mempertanyakan atau mengkritik biasanya akan dihukum. Kegiatan ilegal merajalela dalam kultus agama, yang tumbuh subur dalam keterasingan dan ketakutan. Seringkali, praktik ilegal ini melibatkan pelecehan fisik dan seksual.

Berikut ini adalah enam tanda peringatan yang menunjukkan bahwa suatu kelompok agama atau spiritual mungkin sebenarnya adalah aliran sesat.

  1. Pemimpin yang paling sempurna

Dalam banyak kultus agama, pengikut diberitahu bahwa pemimpin atau pendiri selalu benar. Siapa saja yang mengajukan pertanyaan, membangkitkan potensi perbedaan pendapat, atau berperilaku dengan cara apa pun yang mempertanyakan kesetiaan mereka mutlak akan dihukum. Seringkali, bahkan orang-orang di luar kultus yang menimbulkan masalah bagi para pemimpin akan menjadi sasaran pembalasan yang mematikan. Pemimpin kultus sering percaya bahwa dirinya istimewa atau bahkan seperti dewa dalam beberapa hal. Banyak pemimpin kultus sepanjang sejarah yang pernah ada memiliki keyakinan yang berlebihan bahwa mereka dan mereka sendirilah yang memiliki jawaban atas masalah, dan bahwa mereka harus dihormati.

2. Taktik perekrutan dengan penipuan

Rekrutmen kultus biasanya berkisar pada meyakinkan calon anggota bahwa mereka akan ditawari sesuatu yang tidak mereka miliki dalam kehidupan mereka saat ini. Karena pemimpin sering memangsa mereka yang lemah dan rentan, tidak sulit meyakinkan mereka bahwa bergabung dengan kelompok itu akan membuat hidup mereka lebih baik. Mereka yang terpinggirkan oleh masyarakat, memiliki jaringan dukungan teman dan keluarga yang minim, dan yang merasa tidak diterima adalah target utama perekrut sekte. Dengan menawarkan calon anggota kesempatan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang istimewa, baik spiritual, finansial, atau sosial, mereka biasanya dapat memikat orang.

3. Eksklusivitas 

Sebagian besar kultus agama menuntut agar anggotanya memberi mereka eksklusivitas. Peserta tidak diizinkan untuk menghadiri kebaktian lain, dan diberitahu bahwa mereka hanya dapat menemukan keselamatan sejati melalui ajaran aliran sesat. Kultus Heaven’s Gate, yang aktif pada 1990-an, beroperasi di bawah gagasan bahwa pesawat ruang angkasa luar angkasa akan datang untuk membawa anggotanya menjauh dari bumi, berpusat di sekitar kedatangan komet Hale-Bopp. Selanjutnya, mereka percaya bahwa alien jahat telah merusak sebagian besar umat manusia, dan bahwa semua sistem keagamaan lainnya sebenarnya adalah alat dari makhluk jahat ini. Dengan demikian, anggota Heaven’s Gate diperintahkan untuk meninggalkan gereja mana pun yang mereka ikuti sebelum bergabung dengan grup. Pada tahun 1997, 39 anggota Heaven’s Gate melakukan bunuh diri massal.

4. intimidasi, Ketakutan, dan Isolasi

Kultus biasanya mengisolasi anggota dari keluarga, teman, dan rekan kerja mereka di luar grup. Anggota diajari sejak awal bahwa satu-satunya teman sejati mereka, keluarga asli mereka adalah pengikut sekte lainnya. Hal ini memungkinkan para pemimpin untuk mengisolasi peserta dari mereka yang mungkin mencoba mengeluarkan mereka dari kendali kelompok. Para pengikut akan berhadapan dengan isolasi rangkap tiga: dari dunia luar, dari satu sama lain dalam kultus, dan dari diri mereka sendiri, di mana pemikiran jernih mungkin muncul. Karena kultus hanya dapat terus beroperasi dengan kekuasaan dan kendali, para pemimpin melakukan segala yang mereka bisa untuk membuat anggotanya setia dan patuh. Ketika seseorang mulai berusaha untuk meninggalkan grup, anggota tersebut sering mendapati diri mereka menerima ancaman finansial, spiritual, atau bahkan fisik. Kadang-kadang, keluarga non-anggota mereka juga akan diancam untuk disakiti, agar individu tersebut tetap berada di dalam kelompok.

5. Aktivitas Ilegal

Sepanjang sejarah, banyak ditemukan pemuka agama yang akhirnya tertangkap terlibat dalam kegiatan ilegal. Ini seputar masalah keuangan dan perolehan kekayaan secara curang hingga pelecehan fisik dan seksual. Beberapa bahkan ada yang dihukum karena pembunuhan. Kultus Children of God dituduh melakukan banyak pelecehan pada anggota mereka. Aktris Rose McGowan, mantan anggota, dalam memoarnya, dengan berani menulis tentang kenangan dipukuli oleh anggota sekte dan mengingat bagaimana kelompok tersebut menganjurkan hubungan seksual antara orang dewasa dan anak-anak.

Bhagwan Shree Rajneesh pempimpin  Rajneesh Movement mengumpulkan jutaan dolar setiap tahun melalui berbagai investasi dan kepemilikan. Rajneesh juga dikenal penyuka mobil mewah Rolls Royce, dan memiliki lebih dari empat ratus di antaranya. Kultus Aum Shinrikyo Jepang mungkin merupakan salah satu kelompok paling mematikan dalam sejarah. Selain melakukan serangan gas sarin yang mematikan di sistem kereta bawah tanah Tokyo yang menyebabkan belasan orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka, Aum Shinrikyo juga bertanggung jawab atas beberapa pembunuhan. Korban mereka termasuk pengacara bernama Tsutsumi Sakamoto dan istri serta anaknya, serta Kiyoshi Kariya, saudara laki-laki anggota sekte yang melarikan diri.

6. Dogma Agama

Pemimpin sekte agama biasanya memiliki seperangkat prinsip agama yang ketat yang wajib diikuti oleh anggotanya. Pemimpin atau pendiri biasanya mengaku sebagai nabi kepada para pengikutnya. Beberapa kultus agama percaya akan ramalan Kiamat dan bahwa Akhir Zaman akan datang. Dalam beberapa kultus, pemimpin laki-laki mengklaim bahwa Tuhan telah memerintahkan mereka untuk mengambil banyak istri, yang mengarah pada eksploitasi seksual terhadap perempuan dan gadis di bawah umur. Selain itu, sebagian besar pemimpin sekte menjelaskan kepada pengikutnya bahwa mereka adalah satu-satunya yang cukup istimewa untuk menerima pesan dari yang ilahi, dan bahwa siapa pun yang mengaku mendengar firman Tuhan akan dihukum atau dikucilkan dari kelompok.

Related posts