Mitos-mitos kebahagiaan yang perlu dihindari

BERITA TREND MASA KINI – Tidak dapat dipungkiri, hampir semua dari kita percaya pada apa yang disebut mitos kebahagiaan, yaitu keyakinan bahwa pencapaian seperti pernikahan, anak-anak, pekerjaan, kekayaan akan membuat kita bahagia selamanya. Dan kebalikannya yaitu kegagalan atau kesulitan seperti masalah kesehatan, perceraian, kesulitan finansial membuat kita tidak akan bahagia selamanya.

Namun, banyak penelitian yang dilakukan mengungkapkan bahwa tidak ada formula ajaib untuk kebahagiaan dan tidak ada jalan pasti menuju kesengsaraan. Daripada memusingkan membawa kebahagiaan atau kesengsaraan, tiap momen penting dan titik-titik krisis yang terjadi dalam hidup kita dapat menjadi peluang untuk pembaharuan, pertumbuhan, dan perubahan yang berarti. Pada akhirnya, sudut pandang kita dalam menanggapi dan tindakan kita atas segala situasi yang kita hadapi lah yang akan menentukan.

Berikut adalah beberapa dari mitos-mitos mengenai kebahagiaan yang perlu kita kenali dan hindari untuk dapat memahami arti kebahagiaan yang sesungguhnya:

 

  1. Uang akan membuatmu Bahagia

Semua orang percaya dan pernah mengalami kekhawatiran mengenai uang mengakibatkan stress yang berkepanjangan. Baik itu khawatir karena kekurangan uang ataupun khawatir uang yang anda miliki bisa berkurang. Untuk bertahan hidup, anda memang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan pakaian. Tetapi begitu anda memiliki cukup uang untuk merasa nyaman, mendapatkan lebih banyak uang tidak akan membuat banyak perbedaan dalam seberapa bahagia anda. Misalnya, penelitian tentang pemenang lotre menunjukkan bahwa setelah waktu yang relatif singkat, mereka tidak lebih bahagia daripada sebelum menang.

 

  1. Pernikahan atau hubungan romantis menjamin kebahagiaan 

Memiliki hubungan yang sehat dan saling mendukung memang berkontribusi pada kebahagiaan, tetapi menjadi salah apabila anda berpikir bahwa anda tidak bisa bahagia dan puas jika anda lajang. Penelitian juga dilakukan pada para lajang dan hasilnya menujukkan bahwa para lajang yang memiliki persahabatan dan tujuan atau pencapaian hidup yang jelas lebih bahagia daripada orang-orang dalam hubungan romantis yang tidak cocok. Penting juga untuk dicatat bahwa bahkan pernikahan yang baik tidak mengerucut pada peningkatan kebahagiaan yang permanen dan intens. Mengharapkan pasangan Anda untuk memberikan kebahagiaan kepada anda adalah hal yang dapat merusak hubungan dalam jangka panjang. Bukan pasangan atau anggota keluarga atau apapun dan siapapun yang bertanggung jawab atas kebahagiaan anda melainkan diri anda sendiri.

 

  1. Kebahagiaan akan menurun saat lanjut usia

Ini merupakan sebuah kepercayaan populer yang salah dimasyarakat. Orang muda, tengah baya dan usia lanjut percaya bahwa kebahagiaan akan menurun seiiring bertambahnya usia. Padahal penelitian mengkonfirmasi bahwa orang-orang tua justru lebih bahagia dan puas dengan hidup mereka dibandingkan dengan orang yang lebih muda karena mereka memiliki lebih banyak emosi positif dan lebih sedikit emosi negatif. Selain itu, pengalaman emosional mereka lebih stabil dan menjadi kurang sensitif terhadap stress dan perkara negatif dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa demikian? Ketika kita mulai menyadari bahwa waktu kita didunia ini terbatas, pada dasarnya perspektif kita tentang kehidupan ini menjadi berubah. keterbatasan waktu memotivasi kita untuk menjadi lebih berorientasi pada masa kini dan menginvestasikan waktu dan usaha kita ke dalam hal-hal yang benar-benar penting. Misalnya, seiring bertambahnya usia, daripada bertemu orang baru atau mengambil risiko; kita lebih memprioritaskan dan berinvestasi lebih banyak dalam hubungan keluarga atau pertemanan yang paling dekat dan membuang hubungan yang tidak terlalu mendukung. Dengan kata lain, kita menjadi lebih bijaksana secara emosional seiring bertambahnya usia.

 

  1. Penyakit ini adalah akhir dari kebahagiaan

Tidak ada satu pun orang yang hidup mengharapkan sebuah penyakit, terlebih yang mematikan. Namun jika ketakutan terburuk itu terjadi, kita tidak bisa membayangkan lebih jauh daripada menangis, putus asa dan mulai meyakini diri bahwa kita tidak akan mungkin mengalami kebahagiaan lagi. Namun reaksi dan firasat seperti itu merupakan pengaruh dari salah satu mitos kebahagiaan yang salah. Banyak yang dapat dilakukan dalam menghadapi skenario terburuk itu untuk meningkatkan kemungkinan bahwa kita bisa berdamai dan hidup berdampingan dengan penyakit tersebut dan tidak hanya kesengsaraan dan kesia-siaan saja yang akan kita dapatkan.

Sains menunjukkan bahwa kita memiliki kekuatan untuk memutuskan. Anda mungkin memiliki penyakit kronis, misalnya, dan anda dapat menghabiskan sisa waktu anda memikirkan bagaimana penyakit itu telah menghancurkan hidup anda, atau anda dapat menghabiskan hari-hari anda yang tersisa dengan fokus pada pikiran dan kegiatan yang jauh lebih positif.  Kita dapat mengubah hidup kita hanya dengan mengubah pola pikiran kita.

Related posts