Pembunuhan Jurnalis Aktivis Indonesia, 2 Ditangkap

Beritatrendmasakini.com – Dua pria telah ditangkap sehubungan dengan pembunuhan brutal terhadap sepasang jurnalis aktivis Indonesia yang menjadi penengah dalam sengketa tanah antara perusahaan kelapa sawit dan penduduk setempat, kata pihak berwenang, Selasa (5/11).

Mayat Maraden Sianipar ditemukan pekan lalu di sebuah parit dekat perkebunan kelapa sawit di Labuhan Batu, delapan jam perjalanan dari ibukota provinsi Sumatera Utara.

Polisi menemukan jasad rekannya, Tuan Maratua Siregar, di daerah yang sama sehari kemudian.

Keduanya telah ditusuk beberapa kali.

Pada hari Selasa, polisi mengatakan mereka telah menangkap dua tersangka dan sedang mencari empat tersangka lainnya, dan menambahkan bahwa mereka dapat menghadapi hukuman mati jika didakwa dan dinyatakan bersalah atas pembunuhan.

“Motifnya adalah balas dendam dan dikaitkan dengan sengketa lahan perkebunan kelapa sawit,” kata kepala detektif lokal Jama Kita Purba.

“Kami masih menyelidiki detailnya,” tambahnya.

Sianipar dan Maratua bekerja bersama untuk portal berita online lokal sebelum menjadi freelance pada 2017.

Seorang teman Siregar mengatakan para korban baru-baru ini menjadi terkenal karena aktivisme mereka dalam sengketa tanah – sumber konflik yang umum terjadi di Asia Tenggara yang kaya sumber daya.

bekerja bersama untuk portal berita online setempat. Teman itu mengatakan Siregar aktif dalam organisasi yang mengadvokasi warga dalam sengketa tanah.

Asosiasi jurnalis Indonesia mengutuk kematian tersebut. Selain itu, mereka menuntut pihak berwenang untuk menyelidiki kasus ini secara menyeluruh.

Banyak kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia yang tidak terselesaikan. Aliansi Jurnalis Independen juga telah bertindak dengan melaporkan sedikitnya dua lusin kasus dalam tahun ini.

Indonesia berada di peringkat ke-124 dari 180 negara pada Indeks Kebebasan Pers Dunia 2019 yang diterbitkan oleh Reporters Without Borders. Sebelum menjadi pekerja lepas pada tahun 2017.

Seorang teman Siregar mengatakan para korban baru-baru ini menjadi terkenal karena aktivisme mereka dalam sengketa tanah – sumber konflik yang umum terjadi di Asia Tenggara yang kaya sumber daya.

Related posts