Seorang Perawat Menyelamatkan Dirinya Sendiri Ketika Kena Serangan Jantung

Seorang Perawat Menyelamatkan Dirinya Sendiri Ketika Kena Serangan Jantung

Beritatrendmasakini.comGaya Hidup, Jakarta – Terkadang ada untungnya menjadi seorang tenaga kerja medis karena dapat mengenali gejala penyakit dalam tubuh tanpa dilakukan pemeriksaan diri. Lantas bagaimana jika yang terjadi dalam situasi yang kegawatdaruratan?

Sama seperti halnya yang dialami seorang perawat laki-laki asal Australia Barat ini. Pria ini merupakan satu-satunya perawat yang bertugas di sebuah posk kecil yang berjarak 1.000 km dari ibukota Perth dan 150 km dari fasilitas medis terdekat.

Suatu ketika, pria yang berusia 44 tahun itu mengalami serangan jantung. Ia pun berinisiatif untuk memasang electrocardiogram ke dadanya dan mengirimkan hasil dari pembacaannya melalui email ke seorang dokter.

Singkat kata, hasil dari pembacaan alat ini menunjukkan jantung si perawat hampir berhenti merespons implush saraf yang menyuruhnya untuk berdetak. Sedangkan bagian lain pada jantungnya telah berdetak lemah. Ini dipastikan sebagai dari gejala serangan jantung yang mematikan.

Mengetahui hal itu, si perawat langsung memberikan suntikan sejumlah obat-obatan yang dirancang untuk mengembalikan aliran darahnya, termasuk juga detak jantungnya dan menurunkan rasa sakit di dadanya.

Baca juga : 3 Jenis Gangguan Jantung yang Dapat Mengakibatkan Meninggal ketika Tidur

Ia juga memasang bantalan defibrillator ke dadanya sendiri dan bersiap untuk menyuntikkan adrenaline serta obat lain yang dapat mengembalikan detak jantungnya.

Pada akhirnya Royal Flying Doctor Service Australia datang tepat pada waktunya dan membawa si perawat ke sebuah rumah sakit di Perth. Di rumah sakit itu, dokter menemukan penyumbatan yang begitu buruk di arteri koroner bagian kanannya dan langsung melakukan tindakan operasi untuk mengatasinya.

Selama 48 jam, si perawat terbebas dari serangan jantung yang dialaminya. Kasus ini dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine dan diambil dari Livescience, Minggu (8/4/2018).

Related posts